VIBRASI ENERGI ANAK

sanggau informasi

Bila mengacu pada definisi energi, yaitu kemampuan menghasilkan daya atau gerak, maka sejak anak mampu menghasilkan gerak bisa disebut anak tersebut mampu memvibrasikan energi. Ketika anak melakukan sesuatu penuh keceriaan, rasa bahagia, atau penuh tawa kegembiraan, maka ia memvibrasikan atau melemparkan energi itu ke masa depan. Sebaliknya, anak yang sering murung, penuh kesedihan, rasa tak berharga, atau ketidakbahagiaan maka ia sedang melempar energi itu ke masa depan.

Maka ini menjelaskan kenapa anak ceria senantiasa sehat dan anak pemurung yang mudah nangis mudah pula sakit. Sebab hukum energi tetap berlaku, ia tidak bisa musnah dan mampu berubah wujud. Vibrasi (energi) kesedihan berubah wujud menjadi keadaan atau kondisi yang membuat sedih lagi. Saya melihat anak yang sering digoda atau diolok-olok kakaknya (anak yang lebih besar) lalu menangis, maka saat bertemu anak lain yang lebih besar diolok-olok pula atau anak yang di rumahnya sering menjadi korban kekerasan orang tua, di sekolah menjadi korban kekerasan temannya.

Dalam pikiran dan hati anak sudah tertanam rasa takut, marah, atau benci dan itulah energi yang tervibrasikan sehingga justru berwujud realitas yang mirip. Kalau Anda peka, anak-anak yang sering diperlakukan keras sorot matanya tajam penuh kebencian atau justru sayu penuh kesedihan. Artinya dari sorot mata saja sudah terdeteksi bagaimana perasaannya, apa energi yang tervibrasikannya. Maka tugas orang dewasa-lah (dalam hal ini orang tua) untuk menanam rasa cinta, bahagia, atau rasa syukur pada hati anak dan ini dilakukan melalui pola asuh sehari-hari.

Sebelum anak ke sekolah, saya mengajak anak-anak untuk mengucapkan dengan lantang, “Saya anak sehat, saya anak cerdas, saya anak bahagia.” Lalu memeluk mereka satu per satu. Memang tidak setiap hari, tapi ini adalah upaya menanam atau membiasakan anak melempar energi positif. Tapi terpenting bukan ucapannya, melainkan pelukan orang tuanya. Dipeluk, dibisiki “Ayah sayang Tommy” adalah deklarasi orang tua yang membebaskan anak dari rasa takutnya. Kata-kata itu menenangkan. Anak yang tenang, anak yang merasa terlindungi, anak yang penuh rasa percaya diri, adalah anak yang memvibrasikan energi positif ke masa depan.

Lalu bila ada anak yang diklaim tidak cerdas, tidak cekatan, atau mudah marah, bisa ditelusuri dari perasaannya, bisa ditelusuri dari apa yang ia terima dari orang tuanya. Maka menangani anak yang dianggap bermasalah, justru yang perlu ditangani adalah orang tuanya agar orang tua mengubah pola asuh ke anak. Sebab dari pola asuh itu, tak sadar sedang menanam energi positif atau negatif ke anak.

H Achmad Ridwan

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Pos Terkait:

Komentar