Sanggauinformasi.com. Selama ini, investasi asing sering dianggap hanya ditentukan oleh insentif pajak, kemudahan perizinan, dan regulasi. Padahal, ada faktor lain yang jauh lebih menentukan, tetapi jarang disadari: perilaku dan karakter masyarakatnya.
Fakta di Jawa Tengah (Jateng) membuktikan hal itu. Dalam periode 2021–2025, investasi Jepang di Jawa Tengah tercatat menembus Rp24,2 triliun. Angka ini menunjukkan kepercayaan tinggi investor Jepang terhadap iklim usaha dan stabilitas daerah tersebut. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, bahkan berharap lebih banyak lagi perusahaan Jepang masuk dan mengembangkan bisnisnya di wilayah ini.
Secara kebijakan, Jateng memang memberi banyak kemudahan:
- Perizinan berbasis OSS (Online Single Submission)
- Insentif fiskal seperti tax holiday dan tax allowance
- Pembebasan bea masuk mesin dan bahan baku industri manufaktur
Namun, daya tarik utama Jateng ternyata tidak hanya ada pada kebijakan, tetapi pada sumber daya manusianya.
Jepang secara terbuka menyatakan ketertarikannya terhadap tenaga kerja asal Jawa Tengah. Pada 2025, penempatan pekerja Jateng ke Jepang mencapai 5.712 orang, naik 52% dibandingkan 2024 yang berjumlah 3.760 orang. Lonjakan ini bukan angka biasa—ini adalah sinyal kepercayaan.
Bagi Jepang, kualitas tenaga kerja bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga soal etos kerja, disiplin, adaptasi budaya, loyalitas, dan karakter sosial. Nilai-nilai inilah yang membuat tenaga kerja Jateng dinilai cocok dengan budaya kerja Jepang yang terkenal ketat, terstruktur, dan berorientasi pada kualitas.
Apresiasi Jepang tidak berhenti di situ. Pemerintah dan perusahaan Jepang juga menjamin keamanan, kenyamanan, serta dukungan pelatihan bahasa dan budaya sebelum keberangkatan pekerja. Ini menunjukkan hubungan yang tidak sekadar transaksional, tetapi berbasis kepercayaan jangka panjang.
Fenomena ini mengajarkan satu hal penting: investasi asing tidak hanya masuk ke wilayah yang regulasinya ramah, tetapi ke masyarakat yang perilakunya dipercaya.
Investor tidak hanya melihat angka, tetapi juga melihat manusia. Tidak hanya melihat insentif, tetapi juga integritas. Tidak hanya melihat kebijakan, tetapi juga karakter sosial.
Jawa Tengah menjadi contoh nyata bahwa modal sosial bisa menjadi magnet investasi yang lebih kuat daripada modal finansial. Ketika masyarakatnya dikenal tertib, pekerja keras, mudah beradaptasi, dan berintegritas, maka investor akan datang—bahkan tanpa harus dibujuk terlalu keras.
Pada akhirnya, pembangunan ekonomi bukan hanya soal infrastruktur dan regulasi, tetapi soal membangun karakter masyarakat. Karena dunia tidak hanya berinvestasi pada wilayah. Dunia berinvestasi pada manusia.
Eksplorasi konten lain dari Sanggau Informasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

