PIKIRAN, EMOSI DAN NASIB

Kalau orang biasa ditanya penemuan apa yang paling mempengaruhi kehidupan manusia di abad 20 ? Jawabannya pasti berkisar ke teknologi, seperti handphone, internet dll. Tetapi kalau pertanyaannya itu ditanyakan kepada mereka yang mempelajari alam bawah sadar, maka jawabannya akan berbeda. Yang paling mempengaruhi kehidupan umat manusia adalah ditemukannya secara ilmiah, hubungan langsung antara pola berpikir dan kehidupan seseorang. Ini didasarkan fisika kuantum.

Sebenarnya hubungan antara cara seseorang berpikir dengan nasib atau kehidupannya sudah ada sejak jaman dahulu. Nabi Sulaeman AS mengatakan bahwa manusia adalah pikirannya. Buddha Gautama mengatakan bahwa pikiran adalah pelopor, pikiran adalah pembangun dan pikiran adalah pembentuk. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan kepada sahabatnya saat dia sakit :”Kalau kamu berpikir begitu, maka itulah yang akan terjadi”. Tetapi seperti biasanya, itu hanya diperhatikan saat acara agama saja. Diluar itu nyaris tidak diperhatikan lagi. Seperti biasanya pula, orang tidak percaya bahwa pikiran itu sangat kuat. Mereka takut dianggap menyalahi takdir Tuhan jika dia membenarkan bahwa pikirannya yang membentuk kehidupannya. Jika pikiran dominan kita adalah pikiran positif, maka positif pulalah kehidupan kita. Sebaliknya jika yang dominan itu pikiran negatif, maka negatif pulalah kehidupan kita.

Setiap hari ada ribuan pikiran berseliweran di pikiran kita. Tentu kita tidak bisa menelaah satu persatu. Salah satu cara termudah untuk menelaah pikiran dominan kita adalah dengan mengamati emosi kita. Jika yang muncul adalah emosi negatif, berarti kita sedang memanggil kehidupan yang negatif pula. Kehidupan yang akan memunculkan emosi negatif, atau dalam ilmu vibrasi disebut FORCE, yang dipengaruhi oleh bagian otak yang disebut Reptilian dan memunculkan naluri fight or flight (melawan atau lari). Sebaliknya yang emosi positif, dalam ilmu vibrasi disebut POWER, lebih ke fungsi Neokorteks yaitu Wisdom. Diantara ke duanya ada yang namanya Amygdala. Dalam kondisi yang dianggap berbahaya, maka amygdala akan mengoperkan kendali ke otak reptil. Semakin rendah pengetahuan seseorang (wisdomnya kurang), semakin sering dioper ke otak reptilnya. Orang mengatakan “gampang emosi”. Emosi disini tentu emosi negatif seperti marah, malu, merasa tidak berharga. Kehidupannya tentu tidak jauh jauh dari hal hal yang bisa menyebabkan emosi negatif. Seperti kekurangan uang, capek bekerja, banyak hutang, dan lain lain,

Jika kita ingin memiliki kehidupan yang tenang, bahagia, damai. Kita harus terus menerus berlatih agar kondisi emosi kita lebih banyak di zona POWER dibanding zona FORCE. Dan hal hal baik akan terus masuk ke kehidupan kita.

Untuk terus mempertahankan agar emosi berada di zona POWER, saya sudah melatih 4 hal ini sepanjang hidup saya :

  1. Membuat daftar syukur, berisi hal hal yang saya syukuri yang terjadi sepanjang saya ingat. Kemudian membuat jurnal syukur selama 3 bulan. Setiap malam mencatat minimal 10 hal yang perlu disyukuri.
  2. Membiasakan diri untuk menerima. Tidak ada daun jatuh dan debu terbang tanpa seijin Allah. Sehingga akan nampak aneh kalau ada orang yang mengaku dirinya beriman kepada sang pencipta dan pemilik kehendak, tetapi protes jika ada kejadian yang tidak cocok dengan keinginannya. Padahal seharusnya dia tahu bahwa itu terjadi karena Allah mengijinkan itu terjadi. Saya membiasakan diri untuk berpikir bahwa meskipun saya gulung koming sambil teriak teriak, kejadian itu sudah tidak bisa dibatalkan. Jadi ya tenang saja.
  3. Menganggap bahwa apapun yang terjadi belum bisa diartikan, karena belum selesai. Banyak kejadian orang yang tadinya marah marah karena ketinggalan pesawat, mendadak sujud syukur karena ada kejadian buruk terjadi atas pesawatnya. Dari merasa sebagai orang tersial, berubah menjadi orang paling beruntung.
  4. Menganggap orang lain yang sedang emosi itu gila sementara. Dengan begitu kalau kita diejek, direndahkan dan sebagainya bisa tenang. Toh orang gila yang melakukan.

Sigit Setyawadi

Pos Terkait:

Komentar