NABO: NAGA BORNEO

Mendengar kata Naga memang sudah tak asing lagi. Bahkan disetiap daerah memiliki ceritanya masih-masih dengan nama yang berbeda-beda pula. Naga atau Nabo dalam Bhs.Dayak Tobak biasa dikaitkan dengan hal-hal yang mistis hingga bulan purnama penuh yang tiba-tiba ditutup sesuatu dan biasa hal itu disebut Nabo sedang menelan bulan. Menjadikan penduduk gempar karna diyakini akan menghasilkan bencana pada wilayah yang ditutupinya. Oleh sebab itu pada jaman dahulu semua penduduk lelaki dewasa pun keluar rumah disertai dengan membuat kebisingan dan membawa Senapang Lantak untuk ditembakan kearah bulan yang tertutup agar sang bulan…

Selengkapnya...

Orang Majangk

Penyebutan Majangk atau Urak Majangk pada jaman dahulu sering kali diungkapkan oleh Suku Dayak Tobak untuk menggambarkan ciri-ciri orang/pria yang memiliki telinga panjang, yang sering hidup ditempat-tempat yang terpencil atau dibukit dan gunung-gunung yang keberadaannya sangat jauh dari jangkauan. Orang Majangk tidak terdiri dari satu suku Dayak, melainkan bisa juga dari suku Dayak yang berbeda misalkan bisa jadi Dayak Iban atau bahkan Dayak lainnya juga bisa, dengan ciri-ciri fisik yang sama yaitu bertelinga panjang. Kelompok pria Majangk terkenal dengan ketangguhan fisik mereka yang bisa bertahan hidup disetiap medan yang berbeda-beda, Kelihaian…

Selengkapnya...

“Bongkek” makhluk mitologi Suku Dayak Tobak.

Kalau kalian pernah membaca atau mendengar dan menonton mengenai hantu-hantu negara Jepang. Pasti lah, tak asing lagi dengan namanya hantu Kappa atau lebih mudah nya, sebut saja Monyet Air. Nah.. Kalau di Kalimantan Barat. khusus nya didaerah pemukiman Suku Dayak Tobak. Juga mengenal makhluk ini. Beda nya dengan Jepang, Suku Dayak Tobak mengenalnya dengan sebutan Bongkek. Bongkek dalam cerita Mitologi Suku Dayak Tobak adalah makhluk Sungai yang sangat berbahaya walau pun terkadang cendrung malah suka menghidar dan bersembunyi dari penglihatan manusia. Memiliki rupa menyerupai monyet yang tinggal didalam air dan…

Selengkapnya...

Nikodemus Niko : Sejarah Pudagi Silukua’ Rangka Kolik

PUDAGI Silukua’ Rangka Kolik diperkirakan sudah berumur 3I5an tahun dan ditemukan sekitar abad ke XVII oleh Lunteh Babei Gi’. Menurut cerita turun-temurun dari para orang tua penemuan PUDAGI ini dikisahkan sebagai berikut: Pada suatu hari di kampong Kalimantat Lunteh Babel Gi’ memasang Iju Tamput (bubu besar) di sungai Sekayam untuk mencari ikan guna menghidupi keluarganya. Pada pagi berikutnya Lunteh Babel Gi’ hendak melihat bubunya di sungai Sekayam mungkin ada ikan yang masuk kedalam bubu, tetapi apa yang ditemukan ternyata di depan bubu tersangkut dan melintang rangka kayu, oleh Lunteh babei…

Selengkapnya...

Nikodemus Niko : Sejarah Suku Dayak Jangkang

Suku Dayak Jangkang, salah satu suku dayak yang mendiami wilayah kecamatan Balai Sebut Kabupaten Sanggau provinsi Kalimantan Barat. Umumnya bermukim di bagian utara kabupaten Sanggau. Tepatnya di antara dua sungai besar, yaitu sungai Sekayam dan sungai Mengkiang, juga mendiami pesisir beberapa sungai kecil, seperti sungai Jangkang yang hanya selebar 1,5 meter. Namun, sungai ini adalah sumber mata air dari gunung Bengkawan, sehingga tidak pernah kering. Dahulu, suku Dayak Jangkang sangat ditakuti oleh suku-suku dayak lain yang berada di kabupaten Sanggau, karena mereka terkenal dengan sebutan pengayau ulung. Daerah pengayauan mereka…

Selengkapnya...

Nikodemus Niko : Timawa Tamputn Juah

Dayak Muara atau dalam bahasa Muara disebut OBIH NENGUH berasal dari TIMAWA TAMPUTN JUAH dekat Segomon Kecamatan Sekayam. Pada zaman dahulu kala kira-kira pada abad ke-IV hiduplah dua saudara yaitu JARAK dan PADETN, Jarak bekeluarga dan kawin dengan Cawan Madu (masih di daerah Sungkung) mempunyai anak bernama Tupeh. Pada saat Patih Domong Ria berkuasa, Tupeh juga ikut pindah ke Timawa Tamputn Juah. Untuk beberapa lama kemudian bekeluargalah Tupeh dan mempunyai anak bernama Luweh. Masa Luweh tinggal di Timawa Tamputn Juah terjadilah suatu peristiwa yang sangat mengganggu kehidupan mereka, gangguan tersebut adalah serangan dari…

Selengkapnya...

Sejarah Sub Suku Dayak Obih Nenguh

Menurut cerita dari orang tua-tua dahulu, nun jauh di hulu Sungai Sekayam di daerah Sungkung (Sempatung Sekajang Pala Pasang), Pada  zaman LAMPOK POCAH (Lampok = pulampok, sejenis perahu dan pocah =poruh/retak) diperkirakan gelombang, datangnya rombongan dari daratan Tiongkok yang mengungsi dan mencari daerah baru, timbullah cerita/legenda manusia pertama yang mendiami daerah ini yaitu ”Siantuk Antuk dan Siawang Awang, Jimpete dan Jimpere, Cawan Madu dan Cawan Gula, Bengkawan dan Dara Karinoat,Padet dan Jarak,Juaka dan Dara punai” (yang menurunkan Adat Istiadat dan Rukun Adat). Peristiwa demi peristiwa terjadi, timbullah suatu cerita /legenda di Sengkajang Pala Pasang. Sengkajang Pala Pasang…

Selengkapnya...

Dayak Tobak/Tobag atau sering juga dikenal Dayak Tebang adalah kelompok masyarakat suku Dayak menggunakan bahasa Ope

Dayak Tobak/Tobag atau sering juga dikenal Dayak Tebang adalah kelompok masyarakat suku Dayak menggunakan bahasa Ope atau be-ope yang umumnya bermukim di wilayah Kecamatan Tayan Hilir dan Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Wilayah penyebarannya juga terdapat di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Ketapang. Di Kabupaten Ketapang, mereka dikenal dengan istilah orang Cempede’. Bahasa sub suku Dayak Tebang Benua ini yang sering juga dikenal dengan istilah bahasa Tebang,Tobak/Tobag. Bahasa ini memperlihatkan ciri-ciri bahasa Melayik, meskipun dalam pemetaan yang dilakukan oleh Wurm dan Hattori (1983), kelompok masyarakat ini dipetakan sebagai kelompok…

Selengkapnya...

Nikodemus : Sejarah Suku Dayak Jangkang

Suku Dayak Jangkang, salah satu suku dayak yang mendiami wilayah kecamatan Balai Sebut Kabupaten Sanggau provinsi Kalimantan Barat. Umumnya bermukim di bagian utara kabupaten Sanggau. Tepatnya di antara dua sungai besar, yaitu sungai Sekayam dan sungai Mengkiang, juga mendiami pesisir beberapa sungai kecil, seperti sungai Jangkang yang hanya selebar 1,5 meter. Namun, sungai ini adalah sumber mata air dari gunung Bengkawan, sehingga tidak pernah kering. Dahulu, suku Dayak Jangkang sangat ditakuti oleh suku-suku dayak lain yang berada di kabupaten Sanggau, karena mereka terkenal dengan sebutan pengayau ulung. Daerah pengayauan mereka…

Selengkapnya...

Pantak adalah dokumentasi jaman dulu bagi masyarakat adat Dayak rumpun Kanayatn

Pantak adalah dokumentasi jaman dulu sebelum ada teknologi fotografi bagi masyarakat Dayak rumpun Kanayatn. Masyarakat adat membuat patung untuk mendokumentasikan orang yang berjasa atau pahlawan, maka orang-orang Dayak terutama rumpun Kanayatn banyak membuat patung untuk menghormati tokoh-tokoh atau pahlawannya, patung inilah yang disebut PANTAK. Untuk diketahui, pantak umumnya terbuat dari kayu ulin, namun ada juga yang dipahat di sebuah batu berbentuk manusia lengkap dengan tangan dan kaki. Pantak sendiri terdiri dari berbagai ukuran. Selain sebagai figurative dari tokoh, panglima, atau orang sakti jaman dahulu, Pantak juga dibuat sebagai batas kampung…

Selengkapnya...