Joy Lucas  salah satu netizen berkomentar terhadap kasus petani yang di penjara di Sintang. Nampak dalam foto dua anak petani peladang yang ayahnya ditangkap polisi karena membakar ladang. Mereka meminta bapak presiden membebaskan ayah mereka. Bagi anak seusia mereka memiliki ayah jauh lebih penting dari sekedar punya presiden. Bagi yang peduli masa depan kaum peladang, mari viralkan ini dengan harapan bisa dilihat oleh bapak presiden Joko Widodo.

Usaha DPR RI Komisi IV untuk revisi ketentuan membakar ladang. Pantau terus sanggauinformasi.com

Hari ini Aliansi Solidaritas Anak Peladang (ASAP) beserta adik-adik mahasiswa di kabupaten Sintang, menduduki gedung DPRD kabupaten Sintang dan merangsek masuk ke ruang rapat dan menghentikan rapat paripurna pembahasan anggaran demi membawa persoalan petani yg diproses hukum dalam forum audiensi dengan para wakil rakyat yang terhormat.

Disini kami tidak melawan negara. Disini kami datang membela diri. Membela nurani dan hukum yang berperikemanusiaan. Kami protes karena peraturan yang dibuat oleh pemerintah terkait hal ini tidak mengakomodir ciri kultural kami. Terkesan dipaksakan dan tidak melalui telaah yang komprehensif terkait identitas dan kearifan lokal kami. Dan akhirnya rakyat kecil yang jadi tumbal. Kami menolak itu.

Kami ingin kemajuan tapi kami menolak dijadikan korban. Kami ingin alam yg asri tapi kami menolak kriminalisasi karenanya. PELADANG BUKAN PENJAHAT dan membakar ladang BUKAN TINDAK KEJAHATAN. Mengapa perusahaan sawit biang asap hanya disegel sementara peladang dibui.

Ingat bapak presiden, Sintang adalah kabupaten perbatasan. Hanya berjarak satu jam jalan kaki dari ladang kami, ada kemakmuran negeri tetangga. Tapi kami masih juga bangga disebut orang Indonesia. Tolong jangan biarkan hukum NKRI memicu terkikisnya nasionalisme kami.

Jika hukum NKRI tak bisa adil kepada kami maka relakan kami menentukan nasib sendiri. Karena untuk apa kami disebut anak Pertiwi jika sulit berdaulat sebagai petani…!!!!!

Tinggalkan Balasan