Kalbarinformasi. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tengah menimbang sejumlah langkah strategis untuk merespons gelombang protes besar yang terjadi di Iran (Protes karena harga barang melonjak mahal menahun/inflasi). Langkah-langkah ini bertujuan meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan di Teheran dan diperkirakan akan memuncak dalam beberapa minggu ke depan.
Mengutip laporan Axios dan Iran International, Minggu (11/1/2026), Washington telah melakukan mobilisasi besar-besaran aset militer ke kawasan Timur Tengah selama sepekan terakhir (Kawasan Timur Tengah mencakup negara-negara di Asia Barat Daya dan Afrika Utara, termasuk Arab Saudi, Irak, Iran, Turki, Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon, Israel, Yaman, Oman, Kuwait, Qatar, Bahrain, UEA, Palestina, Siprus, serta terkadang negara-negara Afrika Utara seperti Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, dan Sudan. Wilayah ini terkenal karena letak geografis strategisnya, kekayaan minyak, serta pusat keagamaan Islam, Kristen, dan Yahudi). Pergerakan alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) tersebut diprediksi masih akan berlanjut sebagai persiapan menghadapi potensi eskalasi/proses peningkatan situasi di Iran.
Selain opsi militer langsung, pemerintahan Trump juga mempertimbangkan langkah-langkah pencegahan lainnya. Di antaranya pengumuman pengerahan gugus tempur kapal induk, serangan siber, hingga operasi informasi yang secara khusus menyasar pemerintah Iran. Strategi ini dirancang untuk melemahkan rezim tanpa memicu perang terbuka berskala besar.
Seorang pejabat AS menyebutkan bahwa sebagian kalangan di pemerintahan Trump menilai aksi militer besar justru berisiko melemahkan gerakan protes rakyat Iran. Karena itu, pendekatan yang lebih terukur dianggap lebih efektif pada tahap ini.
Terkait keterlibatan sekutu (Negara-negara NATO), Israel (anggota sekutu juga) dikabarkan baru akan berperan aktif setelah Amerika Serikat memulai aksi militernya. Bahkan, keterlibatan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) disebut dibatasi oleh syarat tertentu.
Israel hanya akan melakukan serangan jika Iran lebih dulu menyerang wilayahnya atau jika terdapat indikasi kuat rencana serangan dalam waktu dekat dari Teheran.
Gelombang protes di Iran sendiri dipicu oleh tekanan ekonomi berkepanjangan akibat sanksi “tekanan maksimum” AS yang melemahkan nilai mata uang Rial. Situasi ini diperburuk dengan kebijakan keras Trump terhadap program nuklir Iran.
Kenaikan harga kebutuhan pokok dan pembatasan kebebasan sipil memicu kemarahan publik, hingga berujung pada demonstrasi besar-besaran. Namun, pemerintah Iran menuding pihak asing, termasuk AS dan Israel, sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut.
Sementara itu, jumlah korban jiwa akibat tindakan represif aparat keamanan Iran dilaporkan terus bertambah. Pejabat AS dan Israel meyakini angka korban sebenarnya jauh lebih tinggi dibandingkan laporan resmi yang menyebutkan 116 orang tewas.
Sumber:
CNBC Indonesia – “Trump Rencanakan Serangan Besar ke Iran Buntut Demo, Libatkan Israel”
Eksplorasi konten lain dari Sanggau Informasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

