Hukum Adat

Didalam pola hidup orang Dayak, adat tidak hanya soal kebiasaan tetapi memiliki nilai dan kekuatan magis/spiritual. Oleh sebab itu didalam memutuskan sebuah keputusan hukum adat ia tidak hanya melihat aspek fisik tetapi juga aspek spiritual sebab jika sang pengambil putusan hukum adat tidak memperhatikan hal ini maka “Tulah” atau hukuman Yang Kuasa itu justru akan jatuh kepada sang pengambil keputusan. Apalagi jika Hukum Adat itu sudah dibisniskan hanya untuk mendapat keuntungan denda adat yang sangat besar misalnya.

Adat dalam budaya Dayak Benuaq diyakini sebagai milik para Nayuq Adat (Dewata) dan manusia hanya sebagai pelaksananya di bumi. Dengan demikian keputusan yang diambil harus sesuai dengann ajaran atau kehendak para Nayuq pemegang adat yg tinggal di “Langit Balaai Solaai”. Dalam hal putusan denda adat, para Nayuq dipanggil untuk memberikan petunjuk kepada para pengurus/Kepala Adat yang akan memutuskan perkara. Para Nayuq inilah pemegang kebenaran, keadilan, kejujuran yang disimbolkan dengan alat timbang & alat ukur hukum adat (Timekng terajuq pasoq kulek).

Sifat Hukum Adat adalah untuk menjaga keseimbangan alam dimana manusia itu tinggal. Hukum adat itu tujuannya rekonsiliasi bukan sebuah persekusi atau tekanan masa, karena sejatinya tujuan utamanya agar manusia kembali hidup dalam Suasana Damai, Aman & Tentram.

Maka dari itu setiap urusan atau perkara adat mesti ada aspek Religinya, karena lewat aspek religi itulah diyakini terjadi rekonsiliasi secara rohani selain yang tampak secara jasmani. Aspek religi yang sederhana dalam adat Dayak Benuaq namun mendasar dalam menangani kasus adat adalah pengolesan “Jomit Burei” atau “Jampiiq Burei” sebagai simbol pemulihan & perbaikan kembali.

Lantas siapakah yang berhak mengadakan sidang adat? Yaitu orang yang diangkat oleh Masyarakat karena mereka tahu soal hukum-hukum adat. Namun yang menjatuhkan vonis atau hukuman adalah Kepala Adat atau Tamanggung atau Damang. Yang berwenang dalam menjatuhkan vonis dan besaran denda adalah Kepala Adat/Damang dan TIDAK boleh sembarangan orang. Karena akan ada implikasi dari Tuhan / Nayuq / Hatalla / Jubata kepada sang pemvonis jika tuduhan itu ternyata salah. Biasanya akan mengalami tulah berupa kematian “Matei Manta” atau sakit/sial.

Namun di beberapa tempat saat ini, hukum adat sudah dijadikan sebagai ajang bisnis oleh para calo adat.

Salinan: #folksofdayak

Oleh Edi Alex Serayok

Pos Terkait:

Komentar