Akhirnya penceramah minta maaf terkait lagu Balonku dan Naik-naik gunung

Sanggau-Informasi.png

Alhamdulillah akhirnya beliau minta maaf. Kita terima permintaan maafnya. Semoga tidak banyak lagi ustadz yang “asal bunyi” dan melakukan pembodohan massal. Jika menafsirkan lagu anak-anak saja bisa ngawur begini maka bagaimana dia bisa menafsirkan teks formal keagamaan (yang biasanya disebut dengan istilah kitab suci) yang penuh dengan metafora dan bahasa simbol itu?

Ditunggu permintaan maaf dari para ustadz asal bunyi yang lain seperti bang Toyib yang bilang Pancasila ada di pantat (dan berbagai makian lainnya), ustadz ganteng yang bilang corona tentara Allah, ngucap hari Ibu haram, drama korea haram, ngopi di setarbak bisa masup neraka (dan banyak lagi kibulannya yang lain), ustadz dengkul yang bilang orang dayak kapir ga bisa masup surga (dan berbagai hoax lainnya), sugik jancuk yang fasih memaki dan berkata kasar, ustadz anu yang bilang puncak kenikmatan di surga adalah pesta seks, ustadz X yang bilang lelaki kaya yang ga poligami masup neraka dan masih banyak lagi.

Semoga dengan semakin berkurangnya “ustadz asal bunyi” maka bangsa ini bisa makin cerdas dan waras. Stop pembodohan massal atas nama agama. Benar kata pak Wapres, bahwa negeri mayoritas X tidak bisa maju dan rakyatnya terbelakang. Ini karena banyak pengajarnya yang asal bunyi dan tidak punya ilmu yang cukup. Semoga Indonesia tidak menyusul Pakistan dan Afghanistan dan menjadi Indonistan.

Salam Waras

Sumber Muhammad Zazuli Via Facebook

Komentar